Senin, 02 Desember 2019

Mantan Dewi Kumari


Aku mengerjapkan mata, sinar mentari membias menembus sela – sela tirai kamarku di lantai 3 penginapan ini. Kusibak tirainya, mentari tersenyum kepadaku membawa kehangatan meskipun senyumannya masih lemah terhalang kabut.

Hari ini aku berencana mengurus trekking permit setelah itu menjelajahi Kathmandu termasuk mengunjungi Basantapur atau biasanya di sebut Kathmandu Durbar Square. Berawal keluar dari pintu penginapan menuju pengurusan permit itu. Dikejauhan terlihat sang Himalaya yang gagah menjulang menembus langit biru bersulamkan awan – awan putih. Cuaca hari ini cukup cerah memang cocok untuk jalan – jalan.

Tak terlalu lama aku mengurus permit karena segala sesuatunya sudah aku siapkan sebelumnya. Setelah permit sudah ditanganku, sesuai rencana akupun menuju ke basantapur yang kukunjungi malam kemarin. 
Basantapur adalah sebuah alun –alun yang dulunya pusat kerajaan, perayaan  nepal dan sekarang meskipun statusnya menjadi negara republik masih digunakan untuk perayaan agama. Di sini aku menyewa seorang guide, agar tahu sejarah di setiap bangunan yang berakar di sini. Guideku mulai menjelaskan beberapa bangunan disini termasuk bangunan yang sekarang tinggal puingnya. Karena pada tahun 2015 yang lalu nepal terkena gempa bumi yang banyak menumbangkan bangunan bersejarah, termasuk di sini. Hingga sampai disebuah bangunan yang bernama Kumari ghat. Sangkar mas bagi sang dewi hidup, Gadis pra akhil balig pilihan dari pemeluk agama Budha yang di puja oleh pemeluk agama Hindu di sini.

“Kadang sang Dewi Kumari mengintip dari jendela, jika kamu juga berpapasan mata dengannya maka bersiaplah untuk keberuntungan tak terduga dalam hidupmu ” ujarnya

“Apa itu dia?” tanyaku sambil menunjuk sebuah jendela yang terlihat gadis kecil memakai celak tebal dan didahinya ada hiasan gambar mata yang  menatapku

Guide langsung melihat jendela yang kutunjuk, gadis itu masuk lagi tapi guideku masih sempat melihatnya walau hanya sekilas.

“Brother... beruntung sekali kamu bisa menatapnya, kedepan kamu akan mendapat berkah yang terduga”katanya.

Kepercayaan yang berbalutkan mitos. Aku tak tahu apa harus mempercayai atau tidak. Kuanggap  kata – kata itu sebagai doa yang diberikan kepadaku, ya...semoga saja.
 
 Saat berjalan – jalan dengan guide ku kulihat perempuan berumur dua puluh tahunan bertubuh sintal memakai saree berwarna kuning, rambutnya hitam sepinggul dan dia sedang asyik memberi makan gerombolan merpati. Saat menoleh searah denganku, aku melihat parasnya seperti familiar di ingatanku tapi tidak terlalu jelas karena tertutup lalu – lalang orang. Lama aku  memandangnya sehingga menarik perhatian guide ku.

“Namanya Priyanka Shakya, dia seorang dokter di rumah sakit Bir ujar guide itu

“Kamu kenal dia?” tanyaku penasaran.

“Semua warga di sini pasti mengenalnya, kamu masih ingatkan istana dewi Kumari yang aku terangkan tadi??, dua belas tahun yang lalu dia tinggal di situ, setelah itu dia di gantikan dewi yang sekarang ini” jawab guide itu

“Oh... dia mantan dewi Kumari?”

“iya , dia wanita cantik dan ramah pada setiap orang sayangnya dia seorang mantan dewi Kumari”

“memangnya kenapa dengan mantan dewi Kumari??”

“Kepercayaan disini mantan dewi Kumari hanya membawa bahaya bahkan membawa kematian awal bagi yang menikahinya”

Bathin ini berkata Mitos sekali lagi mitos, bagaimana bisa seseorang cepat meninggal cuma gara – gara status istrinya yang seorang mantan dewi Kumari. Padahal rejeki, jodoh dan mati adalah rahasia Tuhan.

Setelah itu guide ku menerangkan kembali sejarah bangunan di Basantapur ini sambil kami berjalan. Aku tidak berkonsentrasi mendengar penjelasan guide itu karena aku masih terngiang – ngiang wajah wanita yang tidak terlalu jelas itu. Sekian menit aku teringat oh ya.. dia...sang dewi yang ketinggalan sapu tangan itu. Aku langsung merogoh ranselku untuk mengambil sapu tangannya dan ketemu. Aku berbalik arah dan mencarinya tapi sayang dia sudah pergi dari tempat itu. Melihat kelakuanku tadi guideku bingung,

“Ada apa?..kamu sedang mencari gadis tadi?”tanyanya

“Iya... kemarin aku tidak sengaja  ketemu dia, waktu itu dia menjatuhkan sapu tangannya dan aku tak sempat mengembalikaannya, kamu tahu  kemana dia??” kataku

“maaf..., sayangnya aku tidak tahu”jawabnya

Dua jam berlalu, semua sejarah bangunan di sini sudah dia jelaskan secara detil dan menyeluruh meskipun yang terekam diingatanku tidak lebih dari separuhnya. Setelah membayarnya sesuai kesepakatan, kami berpisah disini dan dia menawarkan jasanya lagi ke wisatawan yang baru datang.

Sang mentari mulai menenggelamkan diri dan aku berjalan menuju hotel.  Jalan yang sempit  dengan ramainya kendaraan, Hiruk pikuk pejalan kaki dan penjual rombong membuat  semakin sumpek1. Tiit..tiit..tiiitt.... bunyi sebuah mobil sedan putih membahana di jalan ini. sudah biasa bunyi klakson mobil bersahutan disini.  Tapi ini beda mobil itu sudah menyerempet rombong pedagang jeruk.   Tak karuan membuyarkan orang yang ada dijalan ini untuk menyelamatkan diri. Kulihat seorang gadis berambut sepundak memakai headset sepertinya mendengarkan lagu sehingga tidak mendengarkan jeritan orang yang memperingatkan dia tentang mobil yang tidak terkendali itu. Saat dia menyadarinya , mobil itu sudah terlalu dekat dan dia hanya diam saja karena syok.

Aku berlari menuju gadis itu dan mendorongnya kesamping agar tidak tertabrak mobil itu. Brruuk..kami jatuh bersamaan diatas hamparan tanah yang berdebu dan mobil itu berlalu tanpa mengurangi gasnya sekalipun.  Setelah itu kami dikerumuni orang – orang yang hendak menolong.  Dan sesudah itu kami bangkit bersamaan.

Kamu tidak apa – apa?”tanyaku kepada dirinya.

Terimakasih aku tidak apa – apa”katanya sambil tersenyum.

Ekspresi senyum tidak berapa lama berganti rasa kuatir melihat wajah ku. “pelipismu terluka, ayo kita kerumah sakit”.

Kusentuh pelipisku kulihat ada darah sedikit, mungkin terantuk batu kecil waktu tadi dan kurasa tidak berbahaya. “tidak perlu hanya luka kecil”kataku.

Jangan menyepelekan luka kecil, takutnya nanti ada gegar otak”katanya dan sebagian orang yang mengerumuni juga ikut mengiyahkannya.

Salah seorang mencegatkan taksi dan kamipun masuk ke taksi itu. Pintu taksi ditutup dan gadis itu berkata Bir hospital pak “.

Sopir itu mengangguk dan mobil suzuki maruti itupun berjalan. Dengan rasa kuatir dia mengambil tisu dan memberikan kepadaku. Akupun mengusap luka dipelipis dengan tisu pemberian tadi.

“maaf ya...gara – gara menolongku kamu terluka begini”katanya.

“tidak apa – apa hanya luka kecil”jawabku.

Dia mengulurkan tangannya dan berkata “Aku Adity Shakya,kamu wisatawan ya? ”

“ Iya...Aku Tian dari Indonesia”

“kupikir kamu dari malaysia,sudah berapa hari disini”

 “baru sehari ini”

 “maaf ya..baru sehari disini sudah mendapat musibah karenaku”

 “tidak apa –apa tidak usah kamu pikirkan, oh ya...kamu asli orang kathmandu sini?”

 “iya dulu aku asli disini tapi umur 7 tahun aku berserta keluarga pindah kekota Phokara, sekarang aku kuliah di Kathmandu University dan tinggal rumah kontrakan bersama kakakku”.

Diapun mulai menceritakan dirinya yang seorang mahasiswi komunikasi massa yang gemar membuat film pendek baik berupa cerita roman yang dibuat bersama temannya  juga berupa dokumenter tentang budaya sukunya , Newari. Katanya suku Newari berbeda dengan suku lain di nepal. Mulai dari orangnya yang lebih mirip orang burma di asia tenggara, Budaya dan bahasanya pun berbeda. Beberapa kata dia ajarkan padaku dan yang kuingat hanya kata Jwa Ja La Pa yang berarti hallo. Dan berbeda dengan sapaan orang nepal pada umumnya yaitu Namaste.

Mobil yang kami tumpangi perlahan – perlahan berhenti di depan rumah sakit yang disebutkan Adity tadi. Saat aku akan  membayar taksi itu, adity melarang ku dan dia membayarnya karena merasa dia bertanggung jawab atas keadaanku.

“Ayo kita, nanti biar aku minta kakakku untuk mengobatimu”

“kakakmu seorang dokter disini?”.

 ”Oh...iya... aku lupa menceritakan kakakku. Dia seorang dokter yang baru dua tahun di sini , meskipun baru dia pintar dalam mendiagnosa penyakit dan sudah beberapa kali ikut operasi bedah.

 Oh kakakmu Dokter spesialis Bedah ya?”

“tidak juga, sebenarnya pendidikan S1 kedokteran tempat kakakku kuliah di Kathmandu University ini juga mendapatkan program keahlian bedah disini dinamakan MBBS2, apa mungkin di negaramu tidak ada ya?”

“iya kayaknya “kataku. Kamipun masuk  kerumah sakit itu.

Saat kami menuju rumah sakit, terlihat gadis memakai seragam dokter yang menghampiri kami.

“Adity kamu tidak apa – apa?”

”tidak apa – apa kak, teman yang menolongku ini yang membutuhkan pertolongan kak”

 dia melihat diriku dan kaget melihat pelipisku berdarah. Dan akupun lebih kaget dari dia karena dia adalah gadis yang  kulihat tadi siang di basantapur, yang menabrakku dan membuat diri ini tidak bisa tidur kemarin malam.

“pelipis anda berdarah ayo segera kita keruang UGD”kata kakaknya Adity.

Aku tidak bisa berkata apa – apa dan hanya mengikuti mereka berdua.

Di UGD serangkaian pemeriksaan aku ikuti.  Meskipun hasil penilaian  dari GCS3 menunjukan nilai 15, aku masih disarankan untuk dilakukan observasi selama beberapa jam kedepan. Dan Akupun mengikutinya karena sudah terlalu malam untuk kembali kepenginapan dan belum sempat untuk mengatakan tentang saputangan yang terjatuh itu.

***

Pagi sudah datang disambut dengan hiruk – pikuknya pegawai rumah sakit ini. Aku berjalan ke Lorong - lorong rumah sakit ini untuk menghilangkan kejenuhan dikamar. Aku mencari ruangan kakaknya Aditi untuk menanyakan apa aku bisa keluar rumah sakit ini Dan kebetulan aku bertemu ruang loby. Aku tersenyum dan menangkupkan kedua tangan didepan dada setelah itu berkata”Jwa ja la pa”.



*photo source  : pixabay.com//id/photos/kathmandu-nepal-burung-merpati-96564/
1 Sempit / sulit bergerak
2  MBBS adalah Gelar profesional di bidang kedokteran dan bedah diberikan setelah lulus dari sekolah kedokteran oleh universitas di negara-negara yang mengikuti tradisi Inggris .
3 Glasgow Coma Scale atau GCS adalah skala yang dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran seseorang. Dahulu, GCS hanya dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran orang yang mengalami cedera kepala. Namun, saat ini GCS juga digunakan untuk menilai tingkat kesadaran saat memberikan pertolongan darurat medis. Tingkat kesadaran tertinggi atau bisa dibilang terjaga sepenuhnya, berada di skala 15. Sementara yang terendah atau yang dikatakan koma, berada di skala 3.


*Tolong Krisannya (kritik Saran) terutama yang mengerti budaya Nepal atau pernah kesana karena saya belum pernah kesana, dan atau yang mengerti dunia medis karena saya awam tentang medis.

0 komentar: