Kamis, 28 November 2019




Dari ketinggian burung besar dengan sayapnya yang terbentang  mulai perlahan – perlahan turun sambil mengeluarkan kakinya yang kuat dan dengan gagahnya menjejakkan kaki sampai ketanah. Burung itu bukan sembarang burung, dia telah menyeberangi hamparan lautan lepas, menyibak awan putih yang berarak – arakan, dan melewati deretan raksasa putih yang begitu angkuhnya berdiri. Ribuan kaki ketinggian, Bermil –mil jarak dan beberapa negara terlewati hanya dalam beberapa jam saja dia libas. Dia adalah burung besi yang mengantarkanku ke negeri eksotik ini. 
    
Begitu berhenti di parkiran pesawat semua penumpang mulai beranjak dari kursi dan keluar dari pintu pesawat ini termasuk aku. Kami semua berjalan memasuki bangunan berbentuk kubus yang di dominasi warna kecoklakan yang berhiasan batu bata itu. Menelusuri lorong menuju ruangan yang menentukan aku dan orang – orang asing itu bisa masuk ke negeri ini atau didepak pulang ke negeri asal. Karena negeri ini dan negeri asalku mempunyai perjanjian maka Aku mendapatkan lima belas hari menjelajah negeri ini dengan menggunakan Visa On Arrival. Setelah itu aku keluar menuju pintu keluar bangunan ini dan juga  merupakan gerbang masuk menuju ke Negeri yang dikenal dengan seribu kuil ini.  Dan bangunan yang tadi aku didalamnya bernama Tribuvan International Airport, Nepal.

Setelah keluar dari bandara aku di jemput oleh pegawai penginapan yang membawaku menuju penginapan di jantung Kota Kathmandu, Thamel. Sebuah kawasan di kota Kathmandu tempat pejalan seperti ku menginap. Sepanjang perjalanan menuju Thamel aku disuguhi dengan deretan bangunan dominan merah kecoklatan yang berbalut debu. Mobil – mobil yang hampir serupa umurnya dengan orang tuaku saling berebutan jalan dengan klakson bersahut – sahutan.  Begitu juga mobil yang kutumpangi ini bagaikan naik roller coster yang membuat jantung deg – degan, meliuk-liuk di jalan yang sempit sambil membunyikan klakson dan sering kali hampir menabrak orang jalan di pinggir jalan. Tapi anehnya mereka tidak marah atau melontarkan caci-maki dan terlihat santai. Sepertinya mereka sudah terbiasa dan  memaklumi cara berkendara disini.

Sesampai di penginapan yang kupesan lewat media online ini aku langsung menuju kamar dan mandi. Selesai mandi Kurebahkan tubuhku diatas kasur sambil memandangi langit –langit kamar ini. Terbayang olehku Seminggu lalu aku tidak menyangka akan kesini. Pada waktu itu kontrak kerjaku  di proyek konstruksi habis dan tidak berniat memperpanjang kontrak lagi karena rencananya aku ingin istirahat  selama satu bulan. Selama beberapa hari resmi menyandang status unemployment citizen, aku gunakan waktu ini untuk hal – hal yang tidak produktif seperti tiduran, membaca novel, dan membuka sosial media.

Waktu aku melihat salah satu grup di sosial media itu, Kulihat foto seseorang yang mengambil latar belakang deretan raksasa putih dingin tinggi menjulang, Himalaya namanya. Aku langsung terkesima melihatnya. Kemegahannya membuatku ingin merasa dingin salju dan derunya angin pegunungan yang dingin menusuk tulang. Keindahannya membuatku ingin meloncat kesana dan membekukan waktu agar bisa berlama-lama disana. Dan dihari itu, kuputuskan waktu istirahat ini kugunakan untuk pergi ke negeri yang di huni deretan raksasa putih itu, Nepal.

Siluet jingga sudah tidak terlihat lagi digantikan cahaya-cahaya bangunan yang berjejeran rapat. Aku pun menuju ke restaurant di atap penginapan ini.

Di restoran atap ini aku berkenalan dengan beberapa backpacker. Mereka adalah para backpacker sejati. Banyak dari mereka yang sudah tahunan mengelilingi mancanegara. Ada yang 3 tahun menjelajahi kota-kota di China, ada yang 5 tahun tinggal di India, dan ada yang 10 tahun mengelilingi dari Rusia, China, Asia Tenggara, dan India hingga terdampar di Nepal ini. Beda denganku yang baru pertama kali pergi luar negeri ini, itupun hanya beberapa hari. Tapi disini mereka tidak membeda – bedakan. Mereka menerimaku dengan ramah karena sama – sama sebagai seorang pejalan.

“Brother, selamat datang di surga himalaya, shangrila sebenarnya” sapa seorang backpacker dari belanda dengan fasih bahasa inggrisnya yang sudah mengelilingi asia tenggara dan china selama 2 tahun.

“Terimakasih teman, hmm.... bukankah setahuku shangrila ada di Tibet?”tanyaku

“Tibet sekarang bukanlah shangrila, Tibet hanyalah cerminan Beijing dengan kemodernannya, disana kamu hanya melihat deretan ruko-ruko  dan bangunan modern yang dimiliki orang Han” Jawabnya.

“Benar teman, disana kau akan lebih merasa sebagai tahanan kota daripada sebagai wisatawan, kemanapun kamu akan diikuti pemandu, hanya beberapa tempat yang boleh kau kunjungi, tidak ada kebebasan “ tambah seorang backpacker Inggris yang baru seminggu kemarin dari tibet.

Seorang backpacker Australia ikut menyahut “uang...uang...dan  uang hanya itu yang mereka pikirkan, bahkan agamapun mereka komersilkan hanya demi selembar kertas berangka”.

“Gimana dengan Buthan katanya masih asli” kataku

“Buthan bukan surga untuk kita, Buthan hanya secuil surga untuk kaum borjuis dan selebritas dunia. Setiap harinya kita harus menyediakan 200 dolar, di sini dengan uang segitu kita bisa menikmati surga dengan sepuasnya.” Katanya

Aku mengangguk tanda setuju meskipun tidak tahu benar apa tidak omongan mereka.

Setelah selesai makan aku mulai menyusuri jalan sekitaran  untuk melihat wajah Thamel sebenarnya. Menurutku thamel adalah labirin sempit yang dihiasi Deretan ruko bertingkat dengan lampu warna - warninya, lalu-lalang orang yang memenuhi jalan dan gelungan kabel listrik yang terlihat semrawut terpasang di tiang. Berbagai macam ras di dunia ada disini,  mulai dari kulit putih pucat, kuning, kuning lansat, hingga hitam legam tumplek blek disini. Berbagai jenis makanan juga tersedia di sini mulai makanan lokal hingga makanan internasional seperti pizza, burger, spagetti, steik yak, dan lainnya. Memang benar kata temanku tadi di sini memang surga himalaya yang diperuntukan untuk semua kalangan.  Bahkan disini kita bisa menikmati rumput surga dengan mudahnya dan murah.

“ Mariyuana Tuan, hanya 5 dolar” bisik seorang warga lokal menawarkan rumput surga itu.

“Tidak terimakasih”  tolakku secara halus.

Dulu sampai tahun 1970an ganja merupakan barang legal di sini. Sehingga  sebagian kaum hippy yang selalu happy itu menjadikan  tempat ini pelabuhan terakhir bagi mereka. Pada tahun 1973 pemerintah mulai melarang perkebunan, penjualan dan kepemilikan ganja namun pemakaian ganja sedikit masih ditoleransi jika dilakukan di ruang privat.

Aku terus berjalan mengikuti deretan toko yang berjejeran di jalan hingga disebuah jalan aku mendengar sebuah keramaian seperti suara perayaan. Mungkin sebuah perayaan agama yang diperuntukan dewa. Di sini memang setiap hari ada perayaan agama, mulai dari hari ulang tahun dewa yang terkenal seperti Shiwa, Wisnu, Brahma, Ganesha, Hanoman sampai dewa – dewi kecil belum pernah aku dengar. Tapi sekarang sudah malam, apa ada perayaan agama diadakan dimalam hari? atau mungkin perayaan pernikahan seseorang. Aku penasaran dan memutuskan untuk melihat keramaian itu. 
Aku berjalan kesana melewati sela –sela orang – orang  yang juga penasaran melihat keramaian itu. Begitu ramenya orang – orang hingga tidak sengaja aku bertabrakan dengan seorang gadis yang berlari berlawanan arah.  Dia hampir jatuh tapi berhasil aku pegang tubuhnya yang sintal itu. Saat rambutnya yang panjang itu menyapu mukaku, semerbak harumnya membuatku seperti melayang. Dan saat kulihat parasnya, seketika jantungku berdesir tak karuan, nadiku terasa tak berpulsa dan jiwaku terasa copot dari raga ini. Baru kali ini aku memegang gadis secantik ini, parasnya seperti Anuskha Sharma. Ah..tidak dia jauh lebih cantik dan lebih muda dari artis yang terkenal lewat film Rab Ne Bana di Jodi itu.

Selang beberapa detik aku menguasai diri dan kami kembali memposisikan diri masing masing.

Seraya aku berkata “maaf Nona, Anda baik – baik saja?”.

“Tidak apa-apa Tuan” sambil mengumbar senyuman.

“Saya baik – baik saja” tambahnya.

Senyumannya menawan tapi kesannya agak dipaksakan. Karena terlihat gurat wajahnya yang menunjukan kesedihan dan bulir air mata yang terselip di kelopak matanya. Hendak aku bertanya dia sudah melangkah berlari membelakangiku dan sumber keramaian orang. Saat aku berbalik arah menuju ke sumber keramaian tidak sengaja aku menginjak sapu tangan yang sedikit basah di atas tanah. Mungkin sapu tangan perempuan itu pikirku. Aku ambil dan hendak memanggil perempuan itu, sayang dia sudah menghilang di telan hilir mudik orang - orang.

Aku kembali menuju ke keramaian itu hingga sampai di sebuah lapangan besar yang berisi bangunan kuno yang sebagian berupa puing –puing akibat gempa lalu dan sebagian lagi masih utuh. Dan besoknya baru kuketahui bahwa ini adalah Basantapur atau banyak orang menyebutnya Kathmandu Durbar Square.

Aku mencoba bertanya pada orang  - orang “ada keramaian apa ini?”.

Beberapa orang menjawab “hari ini adalah Puncak dari hari Indra Jatra, hari Kumari Jatra, Hari dimana dalam satu hari selama setahun Dewi Kumari, Sang Dewi Hidup keluar”.

Salah Seseorang ikut menyahut” kamu tidak beruntung teman, karena barusan Dewi Kumari sudah kembali ke Istananya, sekarang tinggal Bhairab yang menyemburkan alkohol suci yang kami perebutkan ini, kamu mau ikut?”.

Aku tersenyum dan berkata “tidak terimakasih”dan orang itu kembali ikut dalam kerumuman orang yang memperebutkan air suci yang memabukan itu.

Aku meninggalkan keramaian itu dan kembali ke hotel langsung menuju kamar. Aku terbaring di kasur sambil menerawang kejadian tadi. Seandainya aku tadi sampai di negeri ini siang hari, mungkin bisa memandang lama wajah sang dewi itu kalau bisa mungkin berkenalan, Berbincang – bincang  dengannya dan meminta no telponnya. Hmm...sayangnya aku datang disore hari.

Kawan... yang kumaksud bukanlah gadis kecil yang diangkat menjadi dewi yang hanya keluar sehari dalam setahun itu. Tapi sang dewi yang memenuhi pikiranku selama dua jam tadi, yang tidak kukenal namanya, yang bertabrakan denganku dan sapu tangan mungkin miliknya yang kubawa sekarang ini. Karena jika aku datang siang hari, pastinya sang dewi yang tidak kukenal itu melihat perayaan Kumari Jatra dan aku juga bisa melihat dirinya lebih lama. Lama memikirkannya dan kelelahan raga akhirnya pikiranku melayang hingga menembus alam mimpi. 

*photo source  : pixabay.com/id/photos/kathmandu-kota-nepal-pariwisata-4049912/

0 komentar: