Senin, 02 Desember 2019

Mantan Dewi Kumari

Aku mengerjapkan mata, sinar mentari membias menembus sela – sela tirai kamarku di lantai 3 penginapan ini. Kusibak tirainya, mentari tersenyum kepadaku membawa kehangatan meskipun senyumannya masih lemah terhalang kabut.

Hari ini aku berencana mengurus trekking permit setelah itu menjelajahi Kathmandu termasuk mengunjungi Basantapur atau biasanya di sebut Kathmandu Durbar Square. Berawal keluar dari pintu penginapan menuju pengurusan permit itu. Dikejauhan terlihat sang Himalaya yang gagah menjulang menembus langit biru bersulamkan awan – awan putih. Cuaca hari ini cukup cerah memang cocok untuk jalan – jalan.

Tak terlalu lama aku mengurus permit karena segala sesuatunya sudah aku siapkan sebelumnya. Setelah permit sudah ditanganku, sesuai rencana akupun menuju ke basantapur yang kukunjungi malam kemarin. 
Basantapur adalah sebuah alun –alun yang dulunya pusat kerajaan, perayaan  nepal dan sekarang meskipun statusnya menjadi negara republik masih digunakan untuk perayaan agama. Di sini aku menyewa seorang guide, agar tahu sejarah di setiap bangunan yang berakar di sini. Guideku mulai menjelaskan beberapa bangunan disini termasuk bangunan yang sekarang tinggal puingnya. Karena pada tahun 2015 yang lalu nepal terkena gempa bumi yang banyak menumbangkan bangunan bersejarah, termasuk di sini. Hingga sampai disebuah bangunan yang bernama Kumari ghat. Sangkar mas bagi sang dewi hidup, Gadis pra akhil balig pilihan dari pemeluk agama Budha yang di puja oleh pemeluk agama Hindu di sini.

“Kadang sang Dewi Kumari mengintip dari jendela, jika kamu juga berpapasan mata dengannya maka bersiaplah untuk keberuntungan tak terduga dalam hidupmu ” ujarnya

“Apa itu dia?” tanyaku sambil menunjuk sebuah jendela yang terlihat gadis kecil memakai celak tebal dan didahinya ada hiasan gambar mata yang  menatapku

Guide langsung melihat jendela yang kutunjuk, gadis itu masuk lagi tapi guideku masih sempat melihatnya walau hanya sekilas.

“Brother... beruntung sekali kamu bisa menatapnya, kedepan kamu akan mendapat berkah yang terduga”katanya.

Kepercayaan yang berbalutkan mitos. Aku tak tahu apa harus mempercayai atau tidak. Kuanggap  kata – kata itu sebagai doa yang diberikan kepadaku, ya...semoga saja.
 
 Saat berjalan – jalan dengan guide ku kulihat perempuan berumur dua puluh tahunan bertubuh sintal memakai saree berwarna kuning, rambutnya hitam sepinggul dan dia sedang asyik memberi makan gerombolan merpati. Saat menoleh searah denganku, aku melihat parasnya seperti familiar di ingatanku tapi tidak terlalu jelas karena tertutup lalu – lalang orang. Lama aku  memandangnya sehingga menarik perhatian guide ku.

“Namanya Priyanka Shakya, dia seorang dokter di rumah sakit Bir ujar guide itu

“Kamu kenal dia?” tanyaku penasaran.

“Semua warga di sini pasti mengenalnya, kamu masih ingatkan istana dewi Kumari yang aku terangkan tadi??, dua belas tahun yang lalu dia tinggal di situ, setelah itu dia di gantikan dewi yang sekarang ini” jawab guide itu

“Oh... dia mantan dewi Kumari?”

“iya , dia wanita cantik dan ramah pada setiap orang sayangnya dia seorang mantan dewi Kumari”

“memangnya kenapa dengan mantan dewi Kumari??”

“Kepercayaan disini mantan dewi Kumari hanya membawa bahaya bahkan membawa kematian awal bagi yang menikahinya”

Bathin ini berkata Mitos sekali lagi mitos, bagaimana bisa seseorang cepat meninggal cuma gara – gara status istrinya yang seorang mantan dewi Kumari. Padahal rejeki, jodoh dan mati adalah rahasia Tuhan.

Setelah itu guide ku menerangkan kembali sejarah bangunan di Basantapur ini sambil kami berjalan. Aku tidak berkonsentrasi mendengar penjelasan guide itu karena aku masih terngiang – ngiang wajah wanita yang tidak terlalu jelas itu. Sekian menit aku teringat oh ya.. dia...sang dewi yang ketinggalan sapu tangan itu. Aku langsung merogoh ranselku untuk mengambil sapu tangannya dan ketemu. Aku berbalik arah dan mencarinya tapi sayang dia sudah pergi dari tempat itu. Melihat kelakuanku tadi guideku bingung,

“Ada apa?..kamu sedang mencari gadis tadi?”tanyanya

“Iya... kemarin aku tidak sengaja  ketemu dia, waktu itu dia menjatuhkan sapu tangannya dan aku tak sempat mengembalikaannya, kamu tahu  kemana dia??” kataku

“maaf..., sayangnya aku tidak tahu”jawabnya

Dua jam berlalu, semua sejarah bangunan di sini sudah dia jelaskan secara detil dan menyeluruh meskipun yang terekam diingatanku tidak lebih dari separuhnya. Setelah membayarnya sesuai kesepakatan, kami berpisah disini dan dia menawarkan jasanya lagi ke wisatawan yang baru datang.

Sang mentari mulai menenggelamkan diri dan aku berjalan menuju hotel.  Jalan yang sempit  dengan ramainya kendaraan, Hiruk pikuk pejalan kaki dan penjual rombong membuat  semakin sumpek1. Tiit..tiit..tiiitt.... bunyi sebuah mobil sedan putih membahana di jalan ini. sudah biasa bunyi klakson mobil bersahutan disini.  Tapi ini beda mobil itu sudah menyerempet rombong pedagang jeruk.   Tak karuan membuyarkan orang yang ada dijalan ini untuk menyelamatkan diri. Kulihat seorang gadis berambut sepundak memakai headset sepertinya mendengarkan lagu sehingga tidak mendengarkan jeritan orang yang memperingatkan dia tentang mobil yang tidak terkendali itu. Saat dia menyadarinya , mobil itu sudah terlalu dekat dan dia hanya diam saja karena syok.

Aku berlari menuju gadis itu dan mendorongnya kesamping agar tidak tertabrak mobil itu. Brruuk..kami jatuh bersamaan diatas hamparan tanah yang berdebu dan mobil itu berlalu tanpa mengurangi gasnya sekalipun.  Setelah itu kami dikerumuni orang – orang yang hendak menolong.  Dan sesudah itu kami bangkit bersamaan.

Kamu tidak apa – apa?”tanyaku kepada dirinya.

Terimakasih aku tidak apa – apa”katanya sambil tersenyum.

Ekspresi senyum tidak berapa lama berganti rasa kuatir melihat wajah ku. “pelipismu terluka, ayo kita kerumah sakit”.

Kusentuh pelipisku kulihat ada darah sedikit, mungkin terantuk batu kecil waktu tadi dan kurasa tidak berbahaya. “tidak perlu hanya luka kecil”kataku.

Jangan menyepelekan luka kecil, takutnya nanti ada gegar otak”katanya dan sebagian orang yang mengerumuni juga ikut mengiyahkannya.

Salah seorang mencegatkan taksi dan kamipun masuk ke taksi itu. Pintu taksi ditutup dan gadis itu berkata Bir hospital pak “.

Sopir itu mengangguk dan mobil suzuki maruti itupun berjalan. Dengan rasa kuatir dia mengambil tisu dan memberikan kepadaku. Akupun mengusap luka dipelipis dengan tisu pemberian tadi.

“maaf ya...gara – gara menolongku kamu terluka begini”katanya.

“tidak apa – apa hanya luka kecil”jawabku.

Dia mengulurkan tangannya dan berkata “Aku Adity Shakya,kamu wisatawan ya? ”

“ Iya...Aku Tian dari Indonesia”

“kupikir kamu dari malaysia,sudah berapa hari disini”

 “baru sehari ini”

 “maaf ya..baru sehari disini sudah mendapat musibah karenaku”

 “tidak apa –apa tidak usah kamu pikirkan, oh ya...kamu asli orang kathmandu sini?”

 “iya dulu aku asli disini tapi umur 7 tahun aku berserta keluarga pindah kekota Phokara, sekarang aku kuliah di Kathmandu University dan tinggal rumah kontrakan bersama kakakku”.

Diapun mulai menceritakan dirinya yang seorang mahasiswi komunikasi massa yang gemar membuat film pendek baik berupa cerita roman yang dibuat bersama temannya  juga berupa dokumenter tentang budaya sukunya , Newari. Katanya suku Newari berbeda dengan suku lain di nepal. Mulai dari orangnya yang lebih mirip orang burma di asia tenggara, Budaya dan bahasanya pun berbeda. Beberapa kata dia ajarkan padaku dan yang kuingat hanya kata Jwa Ja La Pa yang berarti hallo. Dan berbeda dengan sapaan orang nepal pada umumnya yaitu Namaste.

Mobil yang kami tumpangi perlahan – perlahan berhenti di depan rumah sakit yang disebutkan Adity tadi. Saat aku akan  membayar taksi itu, adity melarang ku dan dia membayarnya karena merasa dia bertanggung jawab atas keadaanku.

“Ayo kita, nanti biar aku minta kakakku untuk mengobatimu”

“kakakmu seorang dokter disini?”.

 ”Oh...iya... aku lupa menceritakan kakakku. Dia seorang dokter yang baru dua tahun di sini , meskipun baru dia pintar dalam mendiagnosa penyakit dan sudah beberapa kali ikut operasi bedah.

 Oh kakakmu Dokter spesialis Bedah ya?”

“tidak juga, sebenarnya pendidikan S1 kedokteran tempat kakakku kuliah di Kathmandu University ini juga mendapatkan program keahlian bedah disini dinamakan MBBS2, apa mungkin di negaramu tidak ada ya?”

“iya kayaknya “kataku. Kamipun masuk  kerumah sakit itu.

Saat kami menuju rumah sakit, terlihat gadis memakai seragam dokter yang menghampiri kami.

“Adity kamu tidak apa – apa?”

”tidak apa – apa kak, teman yang menolongku ini yang membutuhkan pertolongan kak”

 dia melihat diriku dan kaget melihat pelipisku berdarah. Dan akupun lebih kaget dari dia karena dia adalah gadis yang  kulihat tadi siang di basantapur, yang menabrakku dan membuat diri ini tidak bisa tidur kemarin malam.

“pelipis anda berdarah ayo segera kita keruang UGD”kata kakaknya Adity.

Aku tidak bisa berkata apa – apa dan hanya mengikuti mereka berdua.

Di UGD serangkaian pemeriksaan aku ikuti.  Meskipun hasil penilaian  dari GCS3 menunjukan nilai 15, aku masih disarankan untuk dilakukan observasi selama beberapa jam kedepan. Dan Akupun mengikutinya karena sudah terlalu malam untuk kembali kepenginapan dan belum sempat untuk mengatakan tentang saputangan yang terjatuh itu.

***

Pagi sudah datang disambut dengan hiruk – pikuknya pegawai rumah sakit ini. Aku berjalan ke Lorong - lorong rumah sakit ini untuk menghilangkan kejenuhan dikamar. Aku mencari ruangan kakaknya Aditi untuk menanyakan apa aku bisa keluar rumah sakit ini Dan kebetulan aku bertemu ruang loby. Aku tersenyum dan menangkupkan kedua tangan didepan dada setelah itu berkata”Jwa ja la pa”.



*photo source  : pixabay.com//id/photos/kathmandu-nepal-burung-merpati-96564/
1 Sempit / sulit bergerak
2  MBBS adalah Gelar profesional di bidang kedokteran dan bedah diberikan setelah lulus dari sekolah kedokteran oleh universitas di negara-negara yang mengikuti tradisi Inggris .
3 Glasgow Coma Scale atau GCS adalah skala yang dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran seseorang. Dahulu, GCS hanya dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran orang yang mengalami cedera kepala. Namun, saat ini GCS juga digunakan untuk menilai tingkat kesadaran saat memberikan pertolongan darurat medis. Tingkat kesadaran tertinggi atau bisa dibilang terjaga sepenuhnya, berada di skala 15. Sementara yang terendah atau yang dikatakan koma, berada di skala 3.


*Tolong Krisannya (kritik Saran) terutama yang mengerti budaya Nepal atau pernah kesana karena saya belum pernah kesana, dan atau yang mengerti dunia medis karena saya awam tentang medis.

Kamis, 28 November 2019

Sangri-la



Dari ketinggian burung besar dengan sayapnya yang terbentang  mulai perlahan – perlahan turun sambil mengeluarkan kakinya yang kuat dan dengan gagahnya menjejakkan kaki sampai ketanah. Burung itu bukan sembarang burung, dia telah menyeberangi hamparan lautan lepas, menyibak awan putih yang berarak – arakan, dan melewati deretan raksasa putih yang begitu angkuhnya berdiri. Ribuan kaki ketinggian, Bermil –mil jarak dan beberapa negara terlewati hanya dalam beberapa jam saja dia libas. Dia adalah burung besi yang mengantarkanku ke negeri eksotik ini. 
    
Begitu berhenti di parkiran pesawat semua penumpang mulai beranjak dari kursi dan keluar dari pintu pesawat ini termasuk aku. Kami semua berjalan memasuki bangunan berbentuk kubus yang di dominasi warna kecoklakan yang berhiasan batu bata itu. Menelusuri lorong menuju ruangan yang menentukan aku dan orang – orang asing itu bisa masuk ke negeri ini atau didepak pulang ke negeri asal. Karena negeri ini dan negeri asalku mempunyai perjanjian maka Aku mendapatkan lima belas hari menjelajah negeri ini dengan menggunakan Visa On Arrival. Setelah itu aku keluar menuju pintu keluar bangunan ini dan juga  merupakan gerbang masuk menuju ke Negeri yang dikenal dengan seribu kuil ini.  Dan bangunan yang tadi aku didalamnya bernama Tribuvan International Airport, Nepal.

Setelah keluar dari bandara aku di jemput oleh pegawai penginapan yang membawaku menuju penginapan di jantung Kota Kathmandu, Thamel. Sebuah kawasan di kota Kathmandu tempat pejalan seperti ku menginap. Sepanjang perjalanan menuju Thamel aku disuguhi dengan deretan bangunan dominan merah kecoklatan yang berbalut debu. Mobil – mobil yang hampir serupa umurnya dengan orang tuaku saling berebutan jalan dengan klakson bersahut – sahutan.  Begitu juga mobil yang kutumpangi ini bagaikan naik roller coster yang membuat jantung deg – degan, meliuk-liuk di jalan yang sempit sambil membunyikan klakson dan sering kali hampir menabrak orang jalan di pinggir jalan. Tapi anehnya mereka tidak marah atau melontarkan caci-maki dan terlihat santai. Sepertinya mereka sudah terbiasa dan  memaklumi cara berkendara disini.

Sesampai di penginapan yang kupesan lewat media online ini aku langsung menuju kamar dan mandi. Selesai mandi Kurebahkan tubuhku diatas kasur sambil memandangi langit –langit kamar ini. Terbayang olehku Seminggu lalu aku tidak menyangka akan kesini. Pada waktu itu kontrak kerjaku  di proyek konstruksi habis dan tidak berniat memperpanjang kontrak lagi karena rencananya aku ingin istirahat  selama satu bulan. Selama beberapa hari resmi menyandang status unemployment citizen, aku gunakan waktu ini untuk hal – hal yang tidak produktif seperti tiduran, membaca novel, dan membuka sosial media.

Waktu aku melihat salah satu grup di sosial media itu, Kulihat foto seseorang yang mengambil latar belakang deretan raksasa putih dingin tinggi menjulang, Himalaya namanya. Aku langsung terkesima melihatnya. Kemegahannya membuatku ingin merasa dingin salju dan derunya angin pegunungan yang dingin menusuk tulang. Keindahannya membuatku ingin meloncat kesana dan membekukan waktu agar bisa berlama-lama disana. Dan dihari itu, kuputuskan waktu istirahat ini kugunakan untuk pergi ke negeri yang di huni deretan raksasa putih itu, Nepal.

Siluet jingga sudah tidak terlihat lagi digantikan cahaya-cahaya bangunan yang berjejeran rapat. Aku pun menuju ke restaurant di atap penginapan ini.

Di restoran atap ini aku berkenalan dengan beberapa backpacker. Mereka adalah para backpacker sejati. Banyak dari mereka yang sudah tahunan mengelilingi mancanegara. Ada yang 3 tahun menjelajahi kota-kota di China, ada yang 5 tahun tinggal di India, dan ada yang 10 tahun mengelilingi dari Rusia, China, Asia Tenggara, dan India hingga terdampar di Nepal ini. Beda denganku yang baru pertama kali pergi luar negeri ini, itupun hanya beberapa hari. Tapi disini mereka tidak membeda – bedakan. Mereka menerimaku dengan ramah karena sama – sama sebagai seorang pejalan.

“Brother, selamat datang di surga himalaya, shangrila sebenarnya” sapa seorang backpacker dari belanda dengan fasih bahasa inggrisnya yang sudah mengelilingi asia tenggara dan china selama 2 tahun.

“Terimakasih teman, hmm.... bukankah setahuku shangrila ada di Tibet?”tanyaku

“Tibet sekarang bukanlah shangrila, Tibet hanyalah cerminan Beijing dengan kemodernannya, disana kamu hanya melihat deretan ruko-ruko  dan bangunan modern yang dimiliki orang Han” Jawabnya.

“Benar teman, disana kau akan lebih merasa sebagai tahanan kota daripada sebagai wisatawan, kemanapun kamu akan diikuti pemandu, hanya beberapa tempat yang boleh kau kunjungi, tidak ada kebebasan “ tambah seorang backpacker Inggris yang baru seminggu kemarin dari tibet.

Seorang backpacker Australia ikut menyahut “uang...uang...dan  uang hanya itu yang mereka pikirkan, bahkan agamapun mereka komersilkan hanya demi selembar kertas berangka”.

“Gimana dengan Buthan katanya masih asli” kataku

“Buthan bukan surga untuk kita, Buthan hanya secuil surga untuk kaum borjuis dan selebritas dunia. Setiap harinya kita harus menyediakan 200 dolar, di sini dengan uang segitu kita bisa menikmati surga dengan sepuasnya.” Katanya

Aku mengangguk tanda setuju meskipun tidak tahu benar apa tidak omongan mereka.

Setelah selesai makan aku mulai menyusuri jalan sekitaran  untuk melihat wajah Thamel sebenarnya. Menurutku thamel adalah labirin sempit yang dihiasi Deretan ruko bertingkat dengan lampu warna - warninya, lalu-lalang orang yang memenuhi jalan dan gelungan kabel listrik yang terlihat semrawut terpasang di tiang. Berbagai macam ras di dunia ada disini,  mulai dari kulit putih pucat, kuning, kuning lansat, hingga hitam legam tumplek blek disini. Berbagai jenis makanan juga tersedia di sini mulai makanan lokal hingga makanan internasional seperti pizza, burger, spagetti, steik yak, dan lainnya. Memang benar kata temanku tadi di sini memang surga himalaya yang diperuntukan untuk semua kalangan.  Bahkan disini kita bisa menikmati rumput surga dengan mudahnya dan murah.

“ Mariyuana Tuan, hanya 5 dolar” bisik seorang warga lokal menawarkan rumput surga itu.

“Tidak terimakasih”  tolakku secara halus.

Dulu sampai tahun 1970an ganja merupakan barang legal di sini. Sehingga  sebagian kaum hippy yang selalu happy itu menjadikan  tempat ini pelabuhan terakhir bagi mereka. Pada tahun 1973 pemerintah mulai melarang perkebunan, penjualan dan kepemilikan ganja namun pemakaian ganja sedikit masih ditoleransi jika dilakukan di ruang privat.

Aku terus berjalan mengikuti deretan toko yang berjejeran di jalan hingga disebuah jalan aku mendengar sebuah keramaian seperti suara perayaan. Mungkin sebuah perayaan agama yang diperuntukan dewa. Di sini memang setiap hari ada perayaan agama, mulai dari hari ulang tahun dewa yang terkenal seperti Shiwa, Wisnu, Brahma, Ganesha, Hanoman sampai dewa – dewi kecil belum pernah aku dengar. Tapi sekarang sudah malam, apa ada perayaan agama diadakan dimalam hari? atau mungkin perayaan pernikahan seseorang. Aku penasaran dan memutuskan untuk melihat keramaian itu. 
Aku berjalan kesana melewati sela –sela orang – orang  yang juga penasaran melihat keramaian itu. Begitu ramenya orang – orang hingga tidak sengaja aku bertabrakan dengan seorang gadis yang berlari berlawanan arah.  Dia hampir jatuh tapi berhasil aku pegang tubuhnya yang sintal itu. Saat rambutnya yang panjang itu menyapu mukaku, semerbak harumnya membuatku seperti melayang. Dan saat kulihat parasnya, seketika jantungku berdesir tak karuan, nadiku terasa tak berpulsa dan jiwaku terasa copot dari raga ini. Baru kali ini aku memegang gadis secantik ini, parasnya seperti Anuskha Sharma. Ah..tidak dia jauh lebih cantik dan lebih muda dari artis yang terkenal lewat film Rab Ne Bana di Jodi itu.

Selang beberapa detik aku menguasai diri dan kami kembali memposisikan diri masing masing.

Seraya aku berkata “maaf Nona, Anda baik – baik saja?”.

“Tidak apa-apa Tuan” sambil mengumbar senyuman.

“Saya baik – baik saja” tambahnya.

Senyumannya menawan tapi kesannya agak dipaksakan. Karena terlihat gurat wajahnya yang menunjukan kesedihan dan bulir air mata yang terselip di kelopak matanya. Hendak aku bertanya dia sudah melangkah berlari membelakangiku dan sumber keramaian orang. Saat aku berbalik arah menuju ke sumber keramaian tidak sengaja aku menginjak sapu tangan yang sedikit basah di atas tanah. Mungkin sapu tangan perempuan itu pikirku. Aku ambil dan hendak memanggil perempuan itu, sayang dia sudah menghilang di telan hilir mudik orang - orang.

Aku kembali menuju ke keramaian itu hingga sampai di sebuah lapangan besar yang berisi bangunan kuno yang sebagian berupa puing –puing akibat gempa lalu dan sebagian lagi masih utuh. Dan besoknya baru kuketahui bahwa ini adalah Basantapur atau banyak orang menyebutnya Kathmandu Durbar Square.

Aku mencoba bertanya pada orang  - orang “ada keramaian apa ini?”.

Beberapa orang menjawab “hari ini adalah Puncak dari hari Indra Jatra, hari Kumari Jatra, Hari dimana dalam satu hari selama setahun Dewi Kumari, Sang Dewi Hidup keluar”.

Salah Seseorang ikut menyahut” kamu tidak beruntung teman, karena barusan Dewi Kumari sudah kembali ke Istananya, sekarang tinggal Bhairab yang menyemburkan alkohol suci yang kami perebutkan ini, kamu mau ikut?”.

Aku tersenyum dan berkata “tidak terimakasih”dan orang itu kembali ikut dalam kerumuman orang yang memperebutkan air suci yang memabukan itu.

Aku meninggalkan keramaian itu dan kembali ke hotel langsung menuju kamar. Aku terbaring di kasur sambil menerawang kejadian tadi. Seandainya aku tadi sampai di negeri ini siang hari, mungkin bisa memandang lama wajah sang dewi itu kalau bisa mungkin berkenalan, Berbincang – bincang  dengannya dan meminta no telponnya. Hmm...sayangnya aku datang disore hari.

Kawan... yang kumaksud bukanlah gadis kecil yang diangkat menjadi dewi yang hanya keluar sehari dalam setahun itu. Tapi sang dewi yang memenuhi pikiranku selama dua jam tadi, yang tidak kukenal namanya, yang bertabrakan denganku dan sapu tangan mungkin miliknya yang kubawa sekarang ini. Karena jika aku datang siang hari, pastinya sang dewi yang tidak kukenal itu melihat perayaan Kumari Jatra dan aku juga bisa melihat dirinya lebih lama. Lama memikirkannya dan kelelahan raga akhirnya pikiranku melayang hingga menembus alam mimpi. 

*photo source  : pixabay.com/id/photos/kathmandu-kota-nepal-pariwisata-4049912/
Prolog


Hidup....arti sebuah kehidupan.  Apa sih arti kehidupan buat kalian?

Hmm…. Setiap orang mempunyai uraian yang berbeda -  beda dalam mengartikan hidupnya,
Kata Rohaniawan, hidup adalah sebuah titah Tuhan yang harus kita jalani untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.  Agar terhindar dari panasnya neraka dan bisa menggapai surga

Kata Pujangga, hidup adalah proses untuk menggapai kebahagiaan dan angan-angan yang melayang-layang di atas awan serta deretan kata-kata  indah pada setiap syairnya yang pujangga pun kadang tidak bisa melakukannya. Goresan – goresan  pena yang menghiasi setiap lembaran – lembaran kertas merupakan mimpi mereka, cahaya mereka dan hidup mereka.

Kata seorang pejalan, hidup adalah sebuah perjalanan untuk mencari arti sebuah kehidupan. Dengan bermodalkan sebuah tas yang berisi beberapa lembar pakaian, sebuah kamera, buku dan alat tulis yang selalu menyertainya untuk mencari jati dirinya, yang merekapun bingung kapan dan dimana jati dirinya hilang.

Kewajiban dan hak, mimpi dan penggapaian,  pencarian jati diri dan pilihan, dan sederetan kata – kata sakti lainnya yang membuat mereka Hidup. Tanpa itu mungkin mereka tidak merasa hidup meskipun mereka masih benar – benar hidup.

Dan Hidup menurutku hmm....aku tidak mengerti apa arti hidup untukku.  Aku hanya menjalaninya dan meraba-raba kenyataan hidup ini yang kadang ini ingin hanya sebuah mimpi.

Hingga suatu hari aku menemukan sebuah kejutan dalam hidupku dan merubah seluruh pandangan tentang  hidupku. Dan itu hanya dalam lima belas hari

Sabtu, 24 November 2018

Arti Cinta


Apa sih.. arti cinta?
Kata orang cinta itu sesuatu yang membuat jantung bergetar kencang waktu bertemu dengannya.
Ada yang mengatakan bahwa saat kita nyaman dengannya maka itulah cinta.
Ada juga yang menyebut aku dan kamu menjadi kita adalah cinta.
Dan banyak sekali arti cinta dengan bermacam versinya.
Tapi...... bagiku cinta hmm....
Cinta itu memberi bukan meminta
Cinta itu mengikhlaskan bukan memaksa
Cinta itu membahagiakannya bukan menyakitinya

photo source  : pixabay.com/id/kertas-roman-simbol-valentine-1100254/

Sabtu, 01 Juli 2017

Berbahagialah


Malam itu disudut jendela ku termenung
Diiringi hujan rintik yang membentuk segurat wajah yang kukubur dalam hati ini

Terkenang mata itu, senyuman itu, dan perbincangan ditahun itu
Aku tak tahu mengapa kembali muncul lagi dalam benakku ini

kucoba lihat dirimu dari sini
Diatas getaran -getaran yang menghubungkanku denganmu dahulu

Apakah ini jawaban sebagai pertanda bahwa kau telah resmi menjadi milik si beruntung itu
Aku tahu ini saatnya menghapus semua tentangmu dan menenggelamkannya kedalam samudera
Beberapa Langkah


Beberapa langkah hanya beberapa langkah

Aku ingin berjalan denganmu
Berbagi cerita denganmu
Mencerna perasaanmu
Dan memahami duniamu

Sedikit waktu yang kubutuhkan sedikit waktu

Untuk melukiskan kebahagian disenyumanmu
Menghapuskan gurat gelisah diwajahmu
Melebarkan sayap menuju ke mimpi - mimpimu
Dan Mengukir kenangan - kenangan indah bersamamu

Saat kau takut kegelapan kupetik bintang untuk menerangimu
Saat kau kepanasan kubawakan selembar awan untuk menaungimu
Saat hatimu kedinginan kubawakan seikat bunga matahari untuk menghangatkanmu

Hanya beberapa langkah dan sedikit waktu yang kuharapkan darimu